Loading...

Melayani Tuhan atau Melayani Diri Sendiri?

Pdt. Sujanto Putro Waskito Wibowo 01 Nov 2026

Bacaan: Matius 23:1–12

Pernahkah kita bertanya, sebenarnya untuk siapa kita melayani? Apakah sungguh-sungguh untuk Tuhan, atau tanpa sadar kita sedang membangun nama, mencari pengakuan, dan mengejar penghormatan dari orang lain?

Dalam Matius 23:1–12, Yesus menyampaikan kritik tajam terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka mengajarkan hukum Taurat, tetapi tidak melakukannya dengan konsisten. Mereka melakukan berbagai hal supaya dilihat orang, menyukai tempat terhormat, dan senang menerima penghormatan di depan umum. Praktik beragama para Farisi dan ahli Taurat tengah mengubah ritual ibadah menjadi panggung untuk membangun citra diri. Hal-hal yang seharusnya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan justru digunakan untuk meninggikan diri sendiri.

Bukankah godaan yang sama juga dapat muncul dalam pelayanan gereja masa kini?

Gereja memiliki berbagai bentuk pelayanan: khotbah, musik, pendidikan iman, pelayanan sosial, pendampingan pastoral, hingga pengelolaan organisasi. Semua itu penting. Namun, pelayanan yang baik dapat kehilangan maknanya ketika keberhasilan lebih banyak diukur dari popularitas pendeta, besarnya jumlah jemaat, megahnya gedung, ramainya acara, atau banyaknya pengikut di media sosial.

Kita juga dapat terjebak dalam persaingan antarpelayan, perebutan jabatan, dan kebutuhan untuk selalu dianggap paling berjasa. Bahkan, pelayanan yang tampaknya rohani dapat menjadi sarana untuk membangun citra diri. Kita merasa tersinggung ketika tidak dilibatkan, kecewa ketika tidak dipuji, atau sulit menerima ketika orang lain memperoleh kesempatan lebih besar.

Di sinilah kita perlu mengingat bahwa kesibukan melayani Tuhan tidak selalu berarti kita sedang melayani dengan motivasi yang benar.

Yesus memberikan prinsip yang berbeda: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (ayat 11).

Pelayanan bukan kesempatan untuk menguasai orang lain, melainkan tanggung jawab untuk membangun kehidupan bersama. Oleh karenanya, DNA gereja adalah keberanian untuk berani mengevaluasi budayanya sendiri. Gereja selalu memberi ruang bagi kritik yang membangun – Ecclesia reformata, semper reformanda (yang artinya: Gereja reformasi, harus selalu (bersedia) diperbaharui [atau direformasi]) – sebagaimana didengungkan oleh Karl Barth (1947). Pertanyaan yang kritis dan reflektif  sudah sepantasnya tidak dianggap sebagai ancaman terhadap wibawa pemimpin; namun sebagai indikator dari pertumbuhan iman, kepedulian sosial, dan dampak perubahan hidup jemaat. Pertumbuhan gereja sepantasnya dinilai bukan hanya sebatas dari pertumbuhan angka maupun penampilan fisik gedung dan ibadahnya saja – sekalipun data dapat menjadi sarana yang baik untuk membantu kita menilai beberapa indikator pertumbuhan iman jemaat. 

Karena itu, mari kita kembali memeriksa hati. Ketika melayani, apakah kita ingin nama kita semakin dikenal, atau Kristus semakin nyata menjiwai setiap kata dan perilaku kita?

Pelayanan yang sejati adalah tentang seberapa tulus kita melakukan pelayanan dan kesetiaan kita untuk menghadirkan kasih Kristus bagi sesama.


Kembali ke Daftar

Social Media

Warta Terbaru

WARTA JEMAAT 01 Nov 2026

Kegiatan Sepekan

Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.